Jenis Tari Rodat (kadang ditulis “rodad”) cukup banyak ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Di berbagai tempat di Nusantara banyak jenis tari yang memakai nama Rodat dengan penampilan yang berbeda-beda. Sepanjang perkembangannya telah ada berbagai macam koreografi maupun tujuan dari tari Rodat ini. Pada dasarnya penampilan tari ini sering dihubungkan dengan upacara bersyukur maupun sebagai penolak bala walaupun tidak lepas dari unsur hiburannya.
Jenis tari Rodat pada dasarnya menggabungkan tari dengan shalawat dan doa sebagai lagu pengiringnya. Jenis tarian yang memakai nama Rodat itu sungguh beragam. Tarian rodat seperti ini adalah sebuah bentuk tarian yang mempunyai nuansa religi yang kental dan sering disebut sebagai tarian sufi (Tempo, 2017). Tarian ini dibawakan oleh sekitar 15 – 20 orang pria dengan gerakan sederhana dengan membawa kipas (https://www.youtube.com/watch?v=CSwWzxkljak, tanggal akses 26 September 2023). Ada yang lebih banyak melakukan gerakan sambil berdiri atau duduk dan tidak banyak berpindah tempat. Varian dari tarian ini ada beberapa tapi sebagian besar mempunyai formasi dasar berdiri lalu duduk seperti orang berbaris. Tarian Rodat jenis ini sering dibawakan di Masjid atau kala pengajian. Penampilannya banyak dihubungkan dengan penyambutan bulan Ramadhan. Pakaian seragam yang digunakan untuk Rodat jenis ini tidak ada pakem tertentu. Bisa memakai baju koko disertai peci atau baju adat Jawa. Atribut yang sering dipakai adalah kipas tangan walaupun banyak juga Rodat yang tidak memakai kipas. Ada yang memaknai kipas tangan ini sebagai simbol pengusir bala.
Rodat yang dibahas di sini adalah yang berlokasi di kabupaten Sleman. Tari Rodat yang terdapat di daerah kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman sebagian besar adalah tari Rodat yang koreografinya lebih rancak dan lebih banyak formasi serta gerakannya (silakan lihat contoh https://www.youtube.com/watch?v=b5zBCHeotRM, tanggal akses 14 Oktober 2023). Para penari jenis rodat ini kebanyakan berbaris dan berkostum seperti layaknya prajurit. Walaupun diiringi lagu-lagu yang mengandung nasehat dan showalat namun tarian ini lebih dinamis dan cepat gerakannya. Di daerah Tempel, kabupaten Sleman, rodat dulunya adalah nama sebuah kelompok tari yang membawakan tari yang bernama Kobrosiswo (atau Kubro Siswo). Jika dilihat dari video-video yang beredar di media sosial, tari-tarian yang diberi nama Kobrosiswo dan Rodat hampir sama tipe koreografinya. Secara keseluruhan jenis Rodat ada yang berirama lambat dan lebih banyak duduk atau berdiri di tempat; lalu di sisi yang lain ada jenis Rodat yang bertempo cepat dengan gerakan yang lebih seronok walaupun tetap diiringi lagu yang mengandung pesan religi.
Sejarah
Kesenian Rodat ini sudah banyak diteliti dan dijabarkan secara ilmiah (Enny, 2000; Indrawan, 2010; Mufidatul, 2019). Varian dari rodat ini banyak ditemukan di seluruh Indonesia karena berhubungan dengan penyebaran agama Islam. Kata Rodat dianggap berasal dari “Irodat” yang artinya “berkehendak”. Kata ini berkehendak ini adalah salah satu dari sifat Allah dalam agama Islam. Di Yogyakarta tari Rodat ini dimulai dari era Sultan Hamengku Buwono I. Dari gerakan tariannya Rodat ini berasal dari gerakan tari Saman (Aceh) dan tari Burdah dari Turki (M. Kamaludina Purnomo, 2017). Kombinasi kedua tarian ini menunjukkan kedua daerah ini sebagai kiblat awal seni tari religi di Nusantara. Lagu yang dipakai untuk mengiringi Rodat di Kabupaten Sleman ini berisi shalawat dan puji-pujian. Karena hampir punah dan tidak ada penerusnya, Rodat yang ditarikan di masjid seringkali dibawakan oleh pria-pria yang telah paruh baya. Sebaliknya Rodat yang berirama cepat banyak dibawakan oleh pemuda-pemuda baik laki perempuan maupun anak-anak.
Salah satu tradisi yang masih terus dilestarikan adalah tarian Rodat Hadrah (yang kadang ditulis Rodad Hadrah). Seni tari Rodat Hadrah merupakan warisan budaya lokal yang dirintis oleh para alim ulama’ pada masa lampau, hingga sampai saat ini masih berkembang dan mewarnai berbagai kesenian tradisional di Indonesia (Nurbaiti, Ismunandar & Fretisari, 2016). Rodat Hadrah juga merupakan satu kesenian tradisional yang cukup unik karena menggabungkan elemen tari, musik dan religi (Nuruddin, 2015).
Rodat merupakan bentuk sholawat yang disertai unsur pertunjukan dan pendidikan. Ada yang bentuknya seperti vokal grup dengan sentuhan gerakan-gerakan teatrikal yang mirip seperti tarian. Kesenian ini dibawakan oleh sekitar 15-20 pemain meliputi: dalang, bawa swara, singir, pemain genjring dan pemain jedor.
Seni rodat memiliki tabuhan musik rebana yang dipadukan dengan bacaan sholawat dapat disebut sebagai bagian dari terapi musik. Terapi musik berperan sebagai salah satu teknik relaksasi untuk memperbaiki, memelihara, mengembangkan mental, fisik, dan kesehatan emosi (Djohan, 2006)
Pigeaud mendapatkan indikasi bahwa ada dua pengaruh kesenian yang diadaptasi oleh kesenian Rodat yaitu sadari dan rateb. Kata Rodat memiliki kaitan dengan radat (salah satu yang bertindak sebagai pembawa cerita di kedua kesenian Aceh). Radat berasal dari kata Arab raddad yang berarti pengulang atau penjawab, biasanya terdapat dalam ritual zikir (Pigeaud 1991: 476). Bisa jadi Rodad di Mlangi berasal dari Koja dikarenakan tarian tidak mendekati tarian lokal Jawa, malah menyerupai gerakan-gerakan seudati di Aceh, tetapi lebih sederhana.
Kajian
Tarian Rodat ini adalah salah satu contoh bagaimana satu bentuk budaya tersebar ke berbagai tempat dan mengalami modifikasi. Dalam kasus Rodat, tarian ini menyebar dengan berbagai perubahan dalam jenis penari dan koreografinya namun tetap memakai nama Rodat. Jadi ada berbagai bentuk tarian yang bernama Rodat. Sebaliknya ada pula tarian yang namanya berbeda (tidak dinamai Rodat) tapi mempunyai gerakan yang serupa dengan Rodat misalnya Kubro Siswo, Angguk dan Badui. Hal ini menunjukkan adanya genealogi tari, di mana dari satu atau dua tarian bisa berkembang biak beranak pinak berkembang menjadi bermacam-macam jenis Rodat.
Dari gerakan-gerakan yang ditampilkan di media sosial, terlihat bahwa ada genealogi tari yang tari-tarian di atas dalam satu rumpun. Dalam konteks Rodat, persamaan yang menaungi rumpun tari ini adalah lagu pengiringnya yang dipenuhi lirik yang mengingatkan agar tidak lupa pada Sang Pencipta. Dari gerakan yang perlahan dan penuh dengan kesakralan (seperti di tari rodat shalawat dan rodat kipas), tari ini bermetamorfosa menjadi tarian massal yang bersifat hiburan untuk umum.
Hal ini menunjukkan bahwa bentuk-bentuk kebudayaan seperti tari-tarian itu terhubung satu dengan yang lain. Terhubungnya tarian ini menunjukkan hubungan manusia yang bermigrasi serta membawa budaya miliknya sambil mengadopsi budaya orang lain. Sepanjang perjalanan penciptaan tari ini, setiap daerah atau kelompok menambahkan cirinya masing-masing. Melacak asal-usul dari tarian ini akan menghasilkan beragam jawaban baik dari aspek tempat dan waktu terciptanya tarian ini. Melacak asal usul ini tentunya tidak dilakukan dengan semangat mencari mana yang lebih original tapi lebih dari itu untuk menunjukkan bahwa kebudayaan itu terbentuk lewat percampuran. Kesadaran akan hal ini akan membantu menjelaskan mengapa budaya itu selalu berubah. Jawabannya adalah bahwa setiap daerah atau kelompok pasti ingin memiliki identitasnya sendiri baik lewat tarian, lagu atau bentuk seni lainnya. Namun disaat yang bersamaan kebudayaan itu menunjukkan hubungan kekerabatannya lewat jenis tari-tarian yang mirip dengan yang dimiliki daerah lain. Jika diteruskan pelacakan sejarah Rodat, temuannya bisa jadi menunjukkan berbagai aspek sejarah, seperti sejarah penyebaran agama, sejarah migrasi, sejarah terbentuknya identitas lokal, sejarah pembentukan ritual dan beragam budaya lainya.