Nama salah satu padukuhan yang terletak di Kalurahan Banyurejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman ini cukup menggelitik, yakni Tangisan. Banyak orang penasaran bagaimana Padukuhan itu diberi nama yang cukup unik. Penamaan yang cukup unik itu tidak lepas dari sejarah di masa lampau yang pernah ada, meskipun tidak ada catatan atau literatur yang pasti terkait penamaan tersebut.
Asal mula penamaan Padukuhan Tangisan memang masih menjadi sebuah misteri dan belum banyak diketahui orang. Melalui penelusuran sejumlah tetenger bangunan dan menggali informasi dari narasumber, serta melacak jejak perkembangannya, secara demografis Padukuhan Tangisan terdiri dari tiga buah Padukuhan kecil, yaitu Padukuhan Nyidran, Padukuhan Canan, dan Padukuhan Kragilan. Hal itu diungkapkan oleh Sumiyati (60 yang merupakan warga Tangisan.
Menurut Sunarya (58, Sekretaris Desa Banyurejo yang ditemui di rumahnya, mengatakan Sri Tanjung adalah sebuah nama yang disepakati bersama tokoh-tokoh masyarakat Tangisan yang diberikan pada jasad gadis yang tidak diketahui namanya yang dipercaya masih bersemayam di Kentheng Batu yang ada di makam Canan. Nisan tidak bernama di makam Canan itu dipercaya sebagai makam jasad gadis cantik asal Nyidran.
Masih menurut cerita Sunarya, nama Canan merupakan tempat bertemunya Sang Pangeran atau dianggap sebagai tempat berkencan Sang Pangeran dengan Sang Gadis Padukuhan itu. Sedangkan Nyidran dipercaya sebagai Padukuhan asal gadis cantik yang kemudian diberi nama Sri Tanjung oleh warga setempat. Kata Nyidran berasal dari kata “cidra”. Dalam kamus Bahasa Jawa, “cidra” berarti ingkar janji. Dalam kisah ini, Sang Gadis ingkar janji tidak mau menikah dengan Sang Pangeran. Sedangkan asal mula nama Padukuhan Kragilan tidak ada yang mengetahuinya secara pasti, yang kemudian menyatu menjadi Padukuhan Tangisan.
Saat memasuki makam Canan, kita disuguhkan pemandangan unik dan tidak biasa. Ada sebuah batu nisan tanpa nama yang cukup unik dan aneh di makam umum itu. Bentuk nisan yang tidak biasa jelas menimbulkan pertanyaan bagi siapa saja yang melihatnya. Nisan itu berbentuk batu bulat lonjong yang posisinya terbalik atau tengkurap. Konon kabarnya, dari dalam nisan berbentuk kentheng (lumpang) batu tersebut sering terdengar suara-suara tangisan seorang gadis. Dari sinilah sejarah nama Padukuhan Tangisan dimulai.
Asal Mula Nama Tangisan
Ada kisah menarik yang diriwayatkan oleh beberapa narasumber tentang asal-usul penamaan Padukuhan Tangisan. Pada zaman dahulu diriwayatkan ada seorang gadis Padukuhan yang cantik jelita dan berbudi luhur. Banyak pemuda yang ingin melamarnya namun selalu ditolak oleh Sang Gadis Padukuhan. Sampai suatu hari kecantikan gadis Padukuhan terdengar oleh seorang pangeran dari sebuah kerajaan. Mendengar kecantikan gadis itu, pangeran itu berniat untuk mempersuntingnya.
Sang Pangeran lalu mengutus beberapa punggawanya untuk melamarnya. Utusan itu kemudian datang ke Padukuhan Cidran dengan membawa berbagai hadiah pinangan. Mengetahui yang meminang anaknya adalah seorang pangeran yang kaya, orang tua gadis itu langsung menerima lamaran itu. Orang tua gadis itu menerima hadiah dan segera menentukan hari pernikahan mereka. Mereka mempersiapkan pertemuan kedua calon pengantin di Padukuhan Canan tidak jauh dari tempat tinggal gadis cantik tersebut.
Pada hari yang ditentukan, pangeran dan gadis itu dipertemukan di sebuah tempat yang disebut Canan. Melihat gadis yang cantik jelita, pangeran langsung jatuh hati dan sangat senang. Namun, sebaliknya, Sang Gadis yang melihat bahwa calon suaminya berwajah sangat jelek, seketika menolak untuk menikah dengan Sang Pangeran. Mendengar hal itu, pangeran sangat marah. Dibantu para prajuritnya, Sang Pangeran menangkap Sang Gadis dan menyembunyikan gadis itu dengan menutupnya menggunakan “kentheng batu”. Pada zaman dahulu, kentheng adalah alat penumbuk padi yang terbuat dari batu dengan ceruk lubang di bagian tengahnya.
Tiap hari pangeran membujuk pada gadis itu agar mau menjadi istrinya, namun sang gadis tetap tidak mau menjadi istrinya. Pangeran berharap sang gadis mau berubah pikiran. Namun, gadis itu tetap pada pendiriannya, tidak mau menjadi istri pangeran. Karena marah dan kecewa, akhirnya pangeran mengurung gadis itu di bawah kenteng batu hingga Sang Gadis pun menuai ajalnya. Dan, Sang Pangeran meninggalkan tempat itu dengan marah dan kecewa.
Dari tempat kurungan kentheng batu itu, tiap hari terdengar suara tangisan dari sang gadis, namun tidak ada yang berani menyelamatkannya karena tempat itu dijaga sangat ketat oleh para prajurit pangeran. Sampai suatu hari tangisan itu tidak pernah terdengar lagi. Sang gadis dianggap meninggal dunia.
Diriwayatkan jasad gadis itu masih ada di dalam kentheng tersebut dan terkubur di dalamnya. Tempat terkuburnya gadis itu dan kentheng batunya berada di tebing sungai Mlinting. Lama-kelamaan tempat tersebut dijadikan sebagai tempat permakaman warga sekitar sungai Mlinting, yang di kemudian hari dikenal dengan nama Makam Canan, artinya tempat berkencan atau tempat pertemuan.
Kentheng batu berdiameter satu setengah meter itu menjadi nisan tanpa nama. Benda tersebut masih ada sampai sekarang dan masih selalu dikunjungi oleh warga sekitar setiap bulan Ruwah (Sya’ban. Bahkan, pada malam-malam hari tertentu masih ada beberapa orang dari luar Padukuhan Tangisan berziarah ke makam itu dengan maksud dan tujuan yang berbeda-beda. Ada yang ingin mencari pusaka, ada yang mencari berkah, dan lain-lain. Meski tidak diketahui dengan pasti siapa nama gadis itu sampai sekarang, namun kisah itu masih melekat di hati masyarakat sekitarnya.
Hingga saat ini istilah suara tangisan gadis yang dikurung dalam kentheng batu tersebut diabadikan menjadi nama padukuhan, yaitu Padukuhan Tangisan. Meski belum ditemukan dalam sebuah catatan tertulis ataupun jejak benda bersejarah, akan tetapi nilai historis penyebutan julukan tangisan tetap digunakan sampai sekarang.
Penulis : Sri Purwatining Handayani